SULAWESI TENGGARA — GIIAS 2026 memang jadi ajang paling pas buat yang sedang cari kendaraan listrik murah. Salah satu yang mencuri perhatian di lantai pameran adalah Exotic Sprinter AT—bukan karena teknologinya canggih, tapi karena harganya yang jatuh drastis. Diskon Rp 6 juta membuat banderolnya menyentuh angka Rp 9,9 juta, menjadikannya motor listrik paling murah yang bisa dibawa pulang dari ajang ini.
Kami sudah menelusuri spesifikasi dan membandingkannya dengan kebutuhan komuter harian di kota-kota besar Indonesia. Berikut ulasan lengkapnya sebelum Anda memutuskan transaksi.
Desain Retro Eropa: Beda dari Motor Listrik Lainnya
Kalau mayoritas motor listrik di kelas murah mengusung gaya futuristis dengan garis tajam, Sprinter AT justru tampil beda. Bodi membulat dengan lampu depan bulat bergaya retro mengingatkan pada skuter klasik Vespa atau Lambretta—tapi dengan sentuhan modern.
Secara visual, motor ini memang punya daya tarik tersendiri. Cocok untuk pelajar atau pekerja yang ingin tampil beda tanpa harus merogoh kocek dalam. Sayangnya, material bodi masih didominasi plastik dengan finishing standar, jadi jangan berharap kesan premium seperti skuter Eropa asli.
Spesifikasi 1.200 Watt: Cukup untuk Dalam Kota, Tidak untuk Macet Menanjak
Exotic Sprinter AT dibekali motor listrik 1.200 Watt dengan kecepatan maksimum 55 km/jam. Untuk konteks pemakaian harian di jalan datar perkotaan, angka ini masih masuk akal. Namun perlu dicatat: performa ini adalah kondisi ideal tanpa beban berat.
Kalau Anda punya rute dengan tanjakan curam atau sering membonceng, akselerasi dan kecepatan akan turun drastis. Ini bukan motor untuk mengejar waktu di jalan tol atau jalur cepat—Sprinter AT paling nyaman dipakai untuk jarak 5-10 kilometer sekali jalan.
Baterai 60V 20Ah: Jarak Tempuh 60 Km dalam Kondisi Ideal
Baterai yang digunakan berkapasitas 60 Volt 20 Ah, dengan klaim jarak tempuh hingga 60 kilometer dalam sekali pengisian. Waktu charging dari kosong ke penuh butuh 4-6 jam menggunakan charger bawaan.
Perlu digarisbawahi: angka 60 km itu adalah klaim pabrikan dalam kondisi ideal—jalan datar, beban ringan, kecepatan konstan. Di pemakaian nyata dengan stop-and-go khas lalu lintas Jakarta atau Surabaya, jarak tempuh realistisnya ada di kisaran 40-45 km. Kalau Anda memaksakan kecepatan maksimum terus-menerus, baterai bisa lebih cepat habis.
Biaya Operasional: Jauh Lebih Hemat dari Motor Bensin
Keunggulan utama motor listrik kelas ini jelas di biaya operasional. Untuk menempuh 60 km, biaya listriknya hanya sekitar Rp 5.000-7.000 tergantung tarif listrik rumah. Bandingkan dengan motor bensin 110cc yang butuh bensin sekitar Rp 15.000-20.000 untuk jarak yang sama.
Perawatan juga lebih sederhana karena tidak ada oli mesin, busi, atau filter udara yang perlu diganti. Komponen bergeraknya minim, jadi risiko kerusakan mekanis lebih kecil.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli
Ada beberapa catatan penting yang tidak banyak disebut dalam materi promosi:
- Garansi dan servis: Pastikan dealer resmi Exotic ada di kota Anda. Motor listrik murah sering terkendala ketersediaan suku cadang dan jaringan servis yang terbatas.
- Kualitas baterai: Baterai adalah komponen termahal motor listrik. Tanyakan garansi baterai dan biaya penggantiannya—bisa mencapai 40-50% dari harga motor.
- Kecepatan maksimum: 55 km/jam berarti Anda akan kesulitan di jalan yang kecepatan minimumnya 60-70 km/jam seperti beberapa ruas jalan arteri.
- Harga normal Rp 15,9 juta: Harga promo Rp 9,9 juta hanya berlaku selama GIIAS 2026. Setelah pameran selesai, harganya kembali normal—yang membuat nilai tawarnya jauh berkurang.
Verdict: Siapa yang Cocok Membeli?
Exotic Sprinter AT di harga Rp 9,9 juta adalah pilihan masuk akal untuk pengguna dengan kebutuhan spesifik: jarak dekat, medan datar, dan prioritas biaya operasional murah. Pelajar atau pekerja yang rumahnya dekat kampus/kantor akan mendapatkan nilai terbaik dari motor ini.
Namun kalau kebutuhan Anda lebih kompleks—jarak jauh, sering boncengan, atau butuh kecepatan di atas 60 km/jam—motor ini bukan jawabannya. Ada baiknya menabung lebih banyak dan melihat opsi lain di kelas Rp 15-20 juta yang menawarkan performa lebih memadai. Pada akhirnya, Rp 9,9 juta memang murah, tapi pastikan sesuai dengan kebutuhan harian Anda, bukan hanya tergiur angka diskonnya.