SULAWESI TENGGARA — Bermain di hadapan pendukung sendiri, skuad Garuda justru tampil tanpa perlawanan berarti. Tiga gol tanpa balas yang bersarang di gawang Indonesia memaksa pasukan John Herdman pulang dengan kepala tertunduk. Hasil ini mempersulit langkah Timnas Indonesia di klasemen sementara Grup B Piala AFF 2026.
Keputusan Kontroversial di Masa Injury Time
Menariknya, keputusan pelatih di penghujung laga justru menuai sorotan. John Herdman memasukkan Reyhan Hannan pada masa injury time, saat skor sudah telanjur 0-3. Publik menilai langkah ini tidak lebih dari sekadar pemberian menit bermain, bukan upaya serius untuk mengejar ketertinggalan.
Hingga wasit meniup peluit panjang, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Indonesia dibantai Vietnam di kandang sendiri dengan skor akhir 0-3. Pertanyaan besar kini menggantung: apa yang salah dengan persiapan dan strategi Timnas di laga sepenting ini?
Dampak Klasemen dan Ancaman Gagal Lolos
Kekalahan ini menempatkan Timnas Indonesia di posisi yang sangat tidak menguntungkan. Alih-alih mengamankan tiket ke babak semifinal, Garuda justru harus bergantung pada hasil pertandingan lain. Dengan defisit gol yang cukup besar, peluang lolos pun menipis drastis.
Laga berikutnya menjadi penentu. Timnas Indonesia wajib bangkit dan meraih kemenangan untuk menjaga asa. Tekanan kini berada di pundak John Herdman dan para pemain untuk membuktikan bahwa kekalahan telak ini hanyalah sebuah kecelakaan, bukan tren penurunan performa.
Catatan Kritis untuk Lini Pertahanan Garuda
Kebobolan tiga gol di kandang sendiri menjadi pekerjaan rumah besar. Organisasi pertahanan yang rapuh dan transisi bertahan yang lambat menjadi celah yang dieksploitasi habis-habisan oleh lini serang Vietnam. Evaluasi menyeluruh wajib dilakukan sebelum laga penentu nanti.
Dukungan penuh dari suporter di Stadion Pakansari sepanjang laga berlangsung nyatanya tak mampu membakar semangat juang para pemain. Kini, seluruh mata tertuju pada langkah pelatih dan tim pelatih dalam membenahi kekacauan ini. Apakah Garuda mampu bangkit dari keterpurukan, atau justru tersingkir lebih awal dari turnamen dua tahunan ini?