WAKATOBI — Kasuami bukan sekadar makanan khas. Ia adalah makanan pokok alternatif yang telah lama mengisi piring masyarakat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bahan dasarnya sederhana: singkong yang diparut halus, dikeringkan, lalu dikukus hingga matang dan padat.
Proses pembuatannya masih tradisional. Singkong dikupas, dicuci bersih, lalu diparut. Hasil parutan kemudian diperas untuk mengurangi kadar air, lalu dijemur atau dikeringkan. Setelah kering, tepung singkong kasar ini siap dikukus dalam wadah khusus hingga matang dan padat.
Tekstur Padat, Cocok untuk Lauk Apa Saja
Kasuami memiliki tekstur lebih padat dibanding nasi. Warnanya putih bersih dengan aroma singkong yang khas. Makanan ini biasanya disantap bersama lauk pauk seperti ikan bakar, tumis sayur, atau sambal.
Bagi warga Wakatobi, kasuami adalah identitas kuliner yang diwariskan turun-temurun. Di beberapa kampung, warga masih membuatnya secara manual menggunakan parutan tradisional.
Dari Dapur Rumah ke Meja Makan Sehari-hari
Masyarakat pesisir Wakatobi menjadikan kasuami andalan karena bahan bakunya mudah didapat. Singkong tumbuh subur di lahan kering kepulauan. Selain itu, kasuami tahan disimpan lebih lama dibanding nasi basah.
Kasuami biasanya dikukus dalam cetakan berbentuk kerucut atau bulat. Setelah matang, ia bisa langsung dimakan atau digoreng sebentar agar bagian luarnya renyah. Cara penyajiannya fleksibel, tergantung selera masing-masing.
Kasuami menjadi bukti bahwa kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan masih terjaga di tengah modernisasi. Makanan ini juga kerap disajikan dalam acara adat atau hajatan warga.