SULAWESI TENGGARA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan pergeseran strategi signifikan dalam kebijakan luar negerinya terhadap Iran: menjauh dari opsi militer dan mengandalkan pencekikan ekonomi secara bertahap. Dalam pernyataannya, Senin (10/8/2026), Trump menegaskan pendekatan ini akan dijalankan dengan sabar untuk memantau efektivitas sanksi dan blokade laut yang tengah berlangsung.
"Kami akan melakukannya secara perlahan," kata Trump, dilansir dari Axios. Ia menambahkan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi ekonomi yang rapuh, ditandai dengan inflasi tinggi dan minimnya cadangan devisa. "Iran mengalami inflasi yang sangat tinggi dan faktanya mereka tidak memiliki uang," ujarnya.
Meski tekanan ekonomi diperketat, Trump mengungkapkan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran masih terbuka. "Kami saat ini hanya melakukan pembicaraan tidak langsung," katanya, mengindikasikan adanya saluran diplomatik di balik layar tanpa pertemuan tatap muka.
Langkah ini dinilai sebagai upaya AS untuk menciptakan ruang negosiasi sambil menjaga kredibilitas ancaman. Dengan kondisi fiskal Iran yang terus tertekan, pemerintahan Trump meyakini bahwa pilihan untuk berkompromi akan lebih cepat datang dari dalam negeri Iran dibandingkan tekanan militer.
Pernyataan Trump tersebut secara langsung mempengaruhi sentimen pasar komoditas. Kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak akibat perang terbuka mulai mereda, tercermin dari harga minyak dunia yang cenderung stabil. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi angin segar bagi APBN mengingat beban subsidi energi dapat terkendali jika harga minyak mentah tidak meroket.
Sebaliknya, kebijakan blokade laut yang dijalankan AS berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dari Timur Tengah. Pelaku bisnis dan investor perlu mencermati dinamika ini karena fluktuasi harga komoditas masih mungkin terjadi jika situasi diplomatik berubah cepat.
Pilihan Trump untuk menahan diri dari serangan baru menandakan pertimbangan matang akan risiko perang yang meluas. Serangan militer langsung dapat menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan di kawasan yang sudah tidak stabil, sekaligus mengganggu pemulihan ekonomi global pasca pandemi.
Dengan strategi ini, pemerintahan AS berharap tekanan ekonomi mampu memicu perubahan perilaku politik Iran tanpa harus mengorbankan stabilitas regional. Namun, efektivitas kebijakan ini masih menjadi tanda tanya besar mengingat Iran memiliki rekam jejak bertahan di tengah sanksi internasional selama bertahun-tahun.
Investasi dan keputusan bisnis mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan diplomatik AS-Iran sebagai indikator utama pergerakan harga energi global.