KENDARI — Sebanyak 4.080 unit Papan Interaktif Digital (PID) atau smartboard bakal tersebar di ruang-ruang kelas Sulawesi Tenggara mulai tahun ini hingga Juli 2026. Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sultra Junaiddin Pagala mengungkapkan, perangkat tersebut dialokasikan untuk satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA di 17 kabupaten dan kota.
"Penyaluran perangkat PID ini dilakukan untuk mendorong digitalisasi sekolah secara merata, mulai dari wilayah perkotaan hingga pelosok," kata Junaiddin saat ditemui di Kendari, Jumat.
Pembagian bantuan terbesar jatuh ke Kabupaten Konawe Selatan dengan 487 unit dan Konawe 435 unit. Disusul Kabupaten Muna yang menerima 412 unit serta Bombana dengan 318 unit. Kota Kendari sendiri mendapat jatah 294 unit, sementara Kolaka dan Kolaka Timur masing-masing 287 unit dan 236 unit.
Kabupaten Buton memperoleh 200 unit, disusul Buton Tengah 189 unit, Muna Barat 187 unit, serta Kolaka Utara 184 unit. Konawe Utara menerima 181 unit, Wakatobi 175 unit, Buton Selatan 165 unit, Buton Utara 132 unit, dan Kota Baubau 116 unit. Adapun Kabupaten Konawe Kepulauan menjadi penerima terkecil dengan 82 unit.
Junaiddin menegaskan, sekolah yang ingin mendapat bantuan PID pada tahap berikutnya harus memperbarui data administrasi melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dua hal wajib dipenuhi: memperbarui data daya listrik dan mencentang kolom kesediaan menerima bantuan digitalisasi pembelajaran.
"Jika sekolah tidak memperbarui data daya listrik atau tidak mencentang persetujuan penerimaan bantuan di Dapodik, maka bantuan PID tidak dapat dikirimkan," ujarnya.
Pembaruan data listrik menjadi krusial karena satu unit PID membutuhkan daya sekitar 750 watt. Bagi sekolah dengan kapasitas listrik belum mencukupi, pemerintah akan memberikan dukungan peningkatan daya bersamaan dengan proses penyerahan perangkat.
Program digitalisasi ini tetap berjalan meski sekolah belum terjangkau jaringan internet. Kemendikdasmen melengkapi paket bantuan dengan laptop dan hard disk berisi media pembelajaran digital yang siap digunakan tanpa koneksi.
"Hard disk tersebut sudah kami isi dengan media ajar dan perangkat pembelajaran yang sama persis dengan versi online. Ini menjadi solusi bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil agar tetap dapat menikmati pembelajaran berbasis digital," kata Junaiddin.
Melalui skema luring ini, Kemendikdasmen menargetkan kualitas pembelajaran setara di seluruh Indonesia, sehingga peserta didik di pelosok mendapatkan materi dan media ajar yang sama dengan siswa di perkotaan.