SULAWESI TENGGARA — Tom's Guide baru saja merampungkan pengujian terhadap Galaxy Z Fold 8 dan Z Fold 8 Ultra. Dua-duanya tampil impresif di atas kertas: bodi lebih tipis, bobot lebih ringan, dan lipatan layar yang jauh lebih halus dari generasi sebelumnya. Namun setelah dipakai harian, justru hal mendasar yang membuat pengalaman ini terasa belum selesai: aplikasi yang tidak mau menyesuaikan diri dengan layar lipat.
Fakta ini menarik, karena bocoran yang beredar menyebut Apple bakal merilis iPhone Ultra—ponsel lipat pertama mereka—berdekatan dengan peluncuran iPhone 18 Pro. Jika Samsung saja masih tersendat di sisi software, Apple sebenarnya punya peluang besar untuk langsung menang di pertandingan ini.
Samsung sudah bekerja keras menyempurnakan aspek fisik. Engsel terasa lebih solid, layar utama hampir tidak menunjukkan bekas lipatan, dan proporsi bodi Z Fold 8 standar terasa paling pas di tangan. Semua elemen hardware itu layak dipuji. Sayangnya, momen "wow" itu langsung buyar begitu membuka aplikasi favorit.
Masalahnya konsisten di semua ponsel lipat Android yang pernah diuji: aplikasi tidak menskalakan diri dengan benar. TikTok contohnya. Di layar penutup, tampilannya normal. Begitu dibuka ke layar utama, aplikasi malah diapit dua bar hitam di sisi kiri dan kanan. Game seperti Age of Origins justru terlihat meregang tidak proporsional. Parahnya, untuk memperbaiki tampilan ini, pengguna harus menutup paksa aplikasi dan membukanya lagi.
Dalam hal multitasking, Z Fold 8 tetap monster. Menjalankan tiga aplikasi bersamaan di layar terbagi terasa mulus dan produktif. Tapi kemampuan ini jadi kurang berguna ketika aplikasi yang dibuka tidak bisa menyesuaikan orientasi. Beralih dari portrait ke landscape seringkali membuat layout berantakan, dan lagi-lagi, restart aplikasi adalah solusi satu-satunya.
Aplikasi bawaan Google seperti Gmail dan YouTube memang menata ulang dirinya dengan mulus. Namun mayoritas aplikasi pihak ketiga tidak demikian. Ini bukan masalah sepele—ini adalah kegagalan fundamental yang membuat nilai jual utama ponsel lipat, yaitu layar besar, terasa sia-sia untuk penggunaan harian.
Apple punya sejarah panjang memenangkan pasar lewat software, bukan sekadar spesifikasi. Saat Steve Jobs memperkenalkan iPhone pertama pada 2007, perangkat itu bahkan tidak punya koneksi 3G, keyboard fisik, atau stylus—fitur yang sudah lama ada di ponsel Nokia, Palm, dan BlackBerry. Namun pengalaman pengguna yang mulus dengan multi-touch dan browser kelas desktop langsung membuat para pesaingnya tampak usang.
Pola yang sama bisa terulang dengan iPhone Ultra. Apple tidak perlu menciptakan engsel revolusioner atau layar tanpa lipatan sempurna. Mereka cukup melakukan satu hal yang belum berhasil dilakukan Samsung dan Google: memaksa seluruh ekosistem aplikasi untuk beradaptasi dengan mulus.
Yang dibutuhkan bukan sekadar aplikasi yang diperbesar agar memenuhi layar. Aplikasi harus berubah menjadi layout ala iPad—kolom ganda, navigasi yang dioptimalkan, dan elemen UI yang ditata ulang secara otomatis. Transisi dari layar penutup ke layar utama harus terjadi instan tanpa me-restart aplikasi atau menghapusnya dari memori.
Jika Apple bisa memaksa standar adaptif seperti ini di seluruh App Store—seperti yang mereka lakukan dengan iPad—maka iPhone Ultra tidak akan sekadar menjadi ponsel lipat pertama dari Apple. Ia akan menjadi ponsel lipat pertama yang benar-benar terasa lengkap. Samsung boleh unggul di hardware, tapi pertarungan sesungguhnya justru akan dimenangkan di sisi software. Dan di sanalah Apple selama ini paling kuat.