KENDARI — Kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk pada triwulan II-2026 menunjukkan akselerasi signifikan. Laba bersih perseroan melesat 39 persen secara kuartalan menjadi 61 juta dolar AS, sementara EBITDA naik 45 persen ke posisi 116 juta dolar AS dari sebelumnya 80 juta dolar AS.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, menyatakan perseroan berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah dinamika pasar. Hal ini didukung oleh disiplin operasional serta keberlanjutan peningkatan kapasitas operasi penambangan.
Kenaikan pendapatan perseroan tidak lepas dari penguatan harga realisasi rata-rata nikel dalam matte sebesar 4 persen secara kuartalan menjadi 14.765 dolar AS per ton. Pada triwulan I-2026, harga realisasi masih berada di angka 14.213 dolar AS per ton.
Dari sisi produksi, total nikel matte yang dihasilkan sepanjang semester I-2026 mencapai 29.773 metrik ton. Angka ini ditopang oleh produksi triwulan II yang mencapai 16.153 metrik ton, meningkat 19 persen dibandingkan 13.620 ton pada triwulan sebelumnya.
Kinerja penjualan bijih nikel perseroan juga mencatatkan pertumbuhan pesat, terutama dari Blok Pomalaa. Pada triwulan II-2026, penjualan bijih nikel dari blok ini melonjak signifikan menjadi 496 ribu wet metric ton (wmt), dibandingkan hanya 89 ribu wmt pada triwulan I-2026.
Sementara itu, Blok Bahodopi mencatat penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,07 juta wmt pada triwulan II-2026, naik dari 886 ribu wmt pada kuartal sebelumnya. Total penjualan dari blok ini sepanjang semester I-2026 mencapai 1,96 juta wmt.
PT Vale berhasil menekan biaya tunai pokok penjualan nikel matte menjadi 10.005 dolar AS per ton pada triwulan II-2026, membaik dari 10.382 dolar AS per ton pada triwulan sebelumnya. Efisiensi ini menjaga ketahanan keuangan perseroan di tengah tren kenaikan harga energi global.
Tekanan eksternal cukup terasa, dengan harga rata-rata HSFO naik 25 persen, diesel meningkat 40 persen, dan batu bara naik 12 persen akibat faktor geopolitik. Meski demikian, pengelolaan biaya yang disiplin mampu mengompensasi kenaikan tersebut.
Perseroan mencatat kemajuan signifikan dalam agenda hilirisasi nasional. Komponen autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi di Morowali telah tiba, bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) yang merupakan kolaborasi dengan GEM Co., Ltd. dan EcoPro.
Proyek ini difokuskan mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Bernardus menegaskan kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia.
Sepanjang triwulan II-2026, PT Vale merilis belanja modal sebesar 116 juta dolar AS untuk mendukung keberlanjutan operasi dan proyek pertumbuhan strategis. Posisi kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar 111 juta dolar AS.