SULAWESI TENGGARA — Survei Electrek terhadap hampir 2.000 pembaca menemukan lebih dari 60 persen responden menilai harga bahan bakar yang mahal justru mempercepat minat masyarakat terhadap kendaraan hybrid dan listrik. Survei ini digelar menyusul lonjakan harga BBM ke rekor tertinggi setelah perang di Iran, dengan pertanyaan tentang sisi positif dari harga bensin 7 dolar AS per galon. Sekitar 12 persen responden lain memilih opsi berkurangnya kendaraan 4x4 modifikasi sebagai dampak positif.
Electrek menjalankan survei di sidebar situs selama beberapa pekan terakhir, menanyakan apakah pembaca melihat sisi terang di balik harga bahan bakar yang terus memecahkan rekor. Pertanyaan survei berbunyi: "Mereka bilang setiap awan gelap punya sisi terang, dan lonjakan harga BBM belakangan ini jelas terasa seperti awan gelap. Bisakah kita melihat sisi positifnya? Dengan kata lain: apa sisi terang dari bensin 7 dolar per galon?"
Lebih dari 60 Persen Pilih Hybrid dan EV
Dari hampir 2.000 respons yang masuk, lebih dari 60 persen pembaca menyatakan bahwa sisi terang dari bensin mahal adalah meningkatnya minat arus utama terhadap adopsi kendaraan hybrid dan listrik. Sebanyak 12 persen lainnya memilih opsi "lebih sedikit 4x4 yang ditinggikan" — pilihan yang pada dasarnya menyuarakan hal serupa.
Salah satu pembaca menyoroti fenomena di jalan raya. Truk-truk besar yang biasanya menjadi masalah di lajur lambat kini melaju 10 mil per jam di bawah batas kecepatan di jalan antarnegara bagian. Kesadaran mulai tumbuh bahwa mengendarai pikap crew cab dengan konsumsi di bawah 20 mpg untuk segala keperluan bukanlah keputusan cerdas.
Kritik terhadap Pikap Besar dan Konsumsi BBM Boros
Pembaca dengan nama Gussy23 mengaku setuju dengan opsi kedua, meski memilih opsi 4x4 karena kondisi lingkungannya. Ia menyebut dirinya dikelilingi pengendara truk king cab raksasa yang melaju 80 mph di jalan tol. Menurutnya, konsep koefisien hambatan udara dan hambatan gulir dari ban AT serta pengaruhnya terhadap efisiensi bahan bakar jelas asing bagi mereka.
Diskusi di kolom komentar berkembang ke isu keterkaitan antarberbagai hal, harga bahan pokok, dan kenyataan bahwa harga bensin tinggi mempersulit semua orang. Namun ada juga pembaca yang menyampaikan pandangan paling blak-blakan.
Pandangan Ekstrem dari Pemilik EV
Seorang komentator dengan akun RDLink menulis bahwa dirinya tidak peduli dengan harga bensin. Menurutnya, semakin tinggi harga semakin baik, dan semakin banyak orang merasakan kesulitan semakin baik pula. Ia mengaku mengendarai EV dan tidak akan pernah membeli bensin lagi.
RDLink menyatakan dirinya setiap hari bertemu orang-orang yang memiliki akses informasi sama seperti dirinya saat mengambil keputusan beralih ke kendaraan listrik. Ia menilai melalui pilihan dan ketidaktahuan yang disengaja, orang-orang terus membuat keputusan egois dan berpikiran sempit yang hanya memperpanjang penderitaan mereka sendiri.
Dua Sisi Debat Kendaraan Listrik
Penulis Electrek mengaku awalnya ragu memahami nada komentar RDLink, tetapi kemudian menangkap maksudnya. Pengendara yang sengaja memodifikasi knalpot agar mengeluarkan asap tebal di jalan pinggiran kota pada Minggu pagi dinilai tidak peduli bahwa mereka telah merugikan orang lain selama bertahun-tahun.
Pembaca lama dengan akun Harry Tuttle menyatakan keinginannya memilih opsi Vespa. Ia mengaku menyukai gagasan commuting dengan kendaraan roda dua ringan yang menempuh lebih dari 100 mpg dan tampil menawan. Ia mencatat Piaggio selaku induk Vespa tampaknya memutuskan konsumen harus membayar 7.999 dolar AS untuk bodi baja listrik, sementara perusahaan seperti Aventura X membuat mesin komposit bergaya Vespa dengan jangkauan layak dan penggerak listrik.
Hasil lengkap survei tersedia untuk dilihat sendiri, dan Electrek membuka ruang diskusi lanjutan di kolom komentar bagi pembaca yang ingin menyampaikan pandangan.