SULAWESI TENGGARA — Nilai bisnis waralaba Indonesia menembus Rp 143 triliun dengan pertumbuhan rata-rata 10-15% per tahun, ditopang sektor makanan dan minuman, jasa, serta ritel. Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) menyebut kepercayaan antara pemilik merek dan mitra usaha sebagai fondasi pertumbuhan itu. Pameran FLEI Business Show 2026 pada 9-11 Oktober di NICE PIK 2 menjadi ajang mempertemukan keduanya.
Ketua Umum WALI Levita G. Supit menilai kemitraan antara pemilik merek dan mitra usaha menjadi kunci pertumbuhan waralaba nasional. Menurutnya, kepercayaan tidak bisa dibangun lewat transaksi semata, melainkan melalui pertemuan langsung antara kedua pihak.
"Waralaba tumbuh karena kepercayaan, dan kepercayaan dibangun lewat pertemuan langsung. Di FLEI, calon mitra bisa berbicara dengan pemilik merek, bertanya, membandingkan, dan memastikan bisnis yang dipilih memiliki legalitas yang jelas. Hubungan yang dimulai dengan baik akan menjadi kemitraan yang sehat," ujar Levita dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (18/9/2026).
Makanan-Minuman, Jasa, dan Ritel Jadi Motor Utama
Pertumbuhan 10-15% per tahun menempatkan waralaba sebagai salah satu sektor usaha yang bergerak lebih cepat dibandingkan banyak industri lain. Tiga sektor menyumbang porsi terbesar: makanan dan minuman, jasa, serta ritel.
Pilihan kategori itu bukan kebetulan. Modal awal yang relatif terjangkau, siklus balik modal yang lebih pendek, dan permintaan pasar domestik yang stabil membuat ketiganya lebih mudah direplikasi oleh mitra baru dibandingkan sektor padat modal.
FLEI Business Show 2026 Hadirkan Ratusan Merek
Pameran franchise dan lisensi edisi ke-27 dari Panorama Media itu akan digelar pada 9-11 Oktober 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta. Ratusan merek dari makanan dan minuman, jasa, ritel, hingga penyedia solusi ritel dan lisensi kekayaan intelektual akan ikut serta.
Pilihan investasi yang ditawarkan beragam, mulai dari paket usaha bermodal terjangkau untuk pemula hingga kemitraan berskala besar bagi investor. Pengunjung juga bisa memanfaatkan promo dan cashback eksklusif yang hanya berlaku selama pameran berlangsung.
Business Matching dan Summit ASEAN
Program Business Matching mempertemukan pemilik merek dengan calon franchisee, investor, distributor, dan reseller. Forum ini dirancang untuk membuka peluang kemitraan sekaligus memperluas jaringan usaha para peserta.
FLEI juga menggelar International Business Summit yang menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan pebisnis dari sejumlah negara ASEAN. Nama-nama yang terkonfirmasi hadir antara lain Patrick Ng (Malaysia), Arnold Chua Santillan (Filipina), Jonathan Choy (Singapura), Jorge Rodriguez (Vietnam), dan Seth (Thailand).
Apa Artinya bagi Calon Mitra dan Investor
Bagi calon franchisee, pameran semacam ini berfungsi sebagai tahap uji tuntas sebelum mengikat kontrak. Calon mitra bisa membandingkan paket investasi, mengecek legalitas merek, dan menilai rekam jejak pemilik waralaba dalam satu lokasi.
Bagi pemilik merek, ajang ini menjadi kanal ekspansi tanpa harus membuka gerai sendiri. Model waralaba memungkinkan perluasan jaringan dengan modal mitra, sementara pemilik merek tetap memegang kendali atas standar operasional dan identitas brand.
Yang perlu dicermati calon mitra adalah struktur biaya: royalti, biaya awal, skema pasokan bahan baku, dan proyeksi balik modal. Legalitas merek yang jelas dan kontrak kemitraan yang transparan menjadi pembeda antara waralaba sehat dan kemitraan yang berisiko.