Dinas Kesehatan Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, memakai aplikasi REMILA untuk mendigitalkan surveilans kesehatan remaja di posyandu dan sekolah. Data yang terkumpul mencakup status gizi, prevalensi anemia, kurang energi kronis, dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah. Hasilnya dipakai sebagai dasar penyusunan kebijakan intervensi gizi terpadu untuk memutus rantai stunting sejak usia remaja.
BAUBAU — Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Baubau Djainuddin Ishak menyatakan pemanfaatan aplikasi REMILA dievaluasi lewat kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Monev itu memantau progres pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan kesehatan remaja di posyandu maupun sekolah.
Djainuddin menyebut data yang masuk akan dianalisis, diinterpretasikan, dan didiseminasikan sebagai baseline data. Informasi itu menjadi pijakan dalam perumusan kebijakan intervensi gizi terpadu guna memutus rantai stunting sejak usia remaja.
REMILA merupakan singkatan dari remaja milenial sehat. Aplikasi ini dirancang menghasilkan data akurat soal status gizi remaja, prevalensi anemia, kurang energi kronis (KEK), serta tingkat kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD).
Empat indikator itu dipilih karena berkaitan langsung dengan kesiapan remaja memasuki usia reproduksi. Kekurangan gizi dan anemia pada remaja perempuan menjadi salah satu jalur munculnya bayi stunting di kemudian hari.
Kegiatan monev ini melibatkan pemegang program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dari seluruh puskesmas se-Kota Baubau. Tim kerja bidang kesmas yang membidangi gizi serta kesehatan ibu dan anak (KIA) Dinas Kesehatan Kota Baubau turut serta.
Kegiatan tersebut bertajuk "Surveilans Kesehatan Remaja di Posyandu Menggunakan Aplikasi REMILA sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kota Baubau". Judul itu disampaikan Djainuddin sebagai bagian dari penelitian terapan unggulan perguruan tinggi.
Djainuddin menuturkan integrasi data surveilans digital membuat intervensi dini terhadap status kesehatan calon orang tua di Kota Baubau berjalan lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.
Sebelumnya, pencatatan kesehatan remaja di posyandu dan sekolah dilakukan secara manual. Dengan REMILA, petugas dan kader bisa memantau kondisi remaja secara berkala tanpa menunggu rekap bulanan.
"Data yang terkumpul nantinya akan dianalisis, diinterpretasikan, dan didiseminasikan sebagai baseline data. Informasi tersebut menjadi pijakan penting dalam perumusan kebijakan intervensi gizi terpadu guna memutus rantai stunting sejak usia remaja," kata Djainuddin.
Djainuddin menambahkan langkah ini mendapat sambutan hangat dari tenaga kesehatan dan kader. Kehadiran teknologi REMILA dinilai mempermudah proses pemantauan kesehatan remaja secara akurat dan efisien.
Pemerintah Kota Baubau menargetkan sinergi antara akademisi, tenaga medis, dan masyarakat mendorong lahirnya generasi muda yang lebih sehat. Sasaran akhirnya adalah remaja bebas anemia dan terbebas dari ancaman stunting di masa depan.
Dinas Kesehatan Kota Baubau belum merinci jumlah posyandu dan sekolah yang sudah terhubung ke aplikasi tersebut. Evaluasi lanjutan lewat monev akan menentukan perluasan penerapan REMILA ke wilayah lain di Kota Baubau.