Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjamin kelancaran distribusi pupuk bagi petani saat menghadiri Rembuk Tani di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Jaminan itu disampaikan di tengah kebijakan pupuk diskon dan penyerahan bantuan pupuk non-subsidi jenis NPK serta UREA masing-masing 1,5 ton. Pemerintah juga menetapkan harga pembelian gabah Rp6.500 per kilogram dengan menghapus syarat kadar air.
KONAWE SELATAN — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan penyaluran pupuk kepada petani berjalan lancar. Kepastian itu disampaikan saat menghadiri Rembuk Tani di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Menurut Zulkifli, salah satu kebijakan pemerintah untuk menjamin distribusi pupuk adalah penyediaan pupuk diskon bagi petani. Kebijakan itu, katanya, tidak terlepas dari upaya mempermudah akses petani terhadap pupuk.
"Untuk pupuk aman tadi saya tanya juga para petani penyaluran pupuknya. Itu tentu tidak terlepas dari kebijakan kemudahan pupuk diskon, ya," kata Zulkifli Hasan.
Zulkifli menegaskan kebijakan pupuk diskon tidak dipersiapkan untuk pupuk subsidi. Pupuk subsidi sudah terdata dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) untuk didistribusikan ke kelompok tani.
Petani yang ingin mendapatkan pupuk subsidi diminta mendaftarkan kelompok tani mereka. Tanpa pendaftaran, akses ke pupuk subsidi tidak bisa diberikan.
"Karena kalau semua orang ngambil pupuk enggak boleh, pupuk subsidi. Pupuk subsidi itu yang terdaftar, yang petani. Kalau tidak petani ya enggak dapat," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Zulkifli menyerahkan bantuan pupuk non-subsidi secara simbolis. Bantuan itu berupa pupuk jenis NPK sebanyak 1,5 ton dan jenis UREA sebanyak 1,5 ton.
Penyerahan bantuan menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menko Pangan di Sulawesi Tenggara. Kehadiran pemerintah pusat di daerah menjadi penanda komitmen terhadap sektor pertanian setempat.
Zulkifli juga menyoroti kebijakan fleksibilitas harga gabah untuk menyejahterakan petani. Pemerintah telah menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Pemerintah menghapus persyaratan kadar air gabah yang sebelumnya dipatok 14 hingga 18 persen. Dengan penghapusan itu, seluruh hasil panen padi yang sudah matang dapat diserap tanpa terkendala aturan kadar air.
"Kemudian harga gabah kita tingkatkan. Kalau dulu gabah itu ada syarat kadar air 14-18 persen, itu kita hapus. Pokoknya panen, ya, asal sudah matang padinya dipanen, itu harganya Rp6.500 per kilo," jelasnya.
Kebijakan penghapusan syarat kadar air diambil untuk melindungi petani dari praktik permainan harga oleh tengkulak. Tengkulak kerap memotong harga gabah hingga Rp4.000 sampai Rp4.500 per kilogram dengan dalih ketidaksesuaian kadar air.
Zulkifli menyebut banyak petani tidak memahami kadar air gabah mereka. Kondisi itu dimanfaatkan tengkulak untuk menekan harga di tingkat petani.
"Kalau dulu ada catatan kadarnya 18, sehingga itu permainan antar tengkulak, ya, sehingga harga gabah kadang-kadang Rp4.000, Rp4.500. Kadang petani tidak tahu kadar airnya berapa, 18, 14, 28, enggak paham-paham. Nah itu kita hapus," tegasnya.
Dengan harga gabah yang dipatok Rp6.500 per kilogram dan syarat kadar air dihapus, pemerintah berharap pendapatan petani di Konawe Selatan dan daerah lain di Sulawesi Tenggara meningkat. Petani yang belum terdaftar dalam kelompok tani didorong segera mendaftar agar bisa mengakses pupuk subsidi.