Rupiah Dibayangi Harga Minyak US$101 dan Dolar AS di Pasar Spot

Penulis: Reza Maulana  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:33:31 WIB
Rupiah diproyeksikan melemah di pasar spot seiring kenaikan harga minyak Brent ke US$101,51 per barel.

SULAWESI TENGGARA — Rupiah diproyeksikan melemah di perdagangan pasar spot Rabu (7/10/2026) setelah harga minyak mentah Brent naik 0,92% ke US$101,51 per barel dan indeks dolar AS menguat 0,1% ke 101,93. Tekanan datang dari kembalinya premi risiko geopolitik di Selat Hormuz yang memaksa pasar menghitung ulang potensi gangguan pasokan.

Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) sudah memberi sinyal awal. Mata uang domestik bergerak di rentang Rp17.895 per dolar AS usai melemah 0,14%, berbalik dari posisi spot kemarin yang justru menguat ke Rp17.900 per dolar AS.

Penguatan rupiah sehari sebelumnya terjadi di tengah tekanan di pasar obligasi. Aksi jual mendorong kenaikan yield di hampir semua tenor, terutama tenor menengah hingga panjang.

Harga Minyak Kembali Tembus US$100 per Barel

Lonjakan harga minyak mentah Brent ke US$101,51 per barel menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang kawasan. Kenaikan itu terjadi setelah serangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz.

Posisi harga minyak yang kembali di atas US$100 per barel menunjukkan premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari pasar. Meski arus pengiriman dikabarkan mulai meningkat di Selat Hormuz, pelaku pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan jika eskalasi serangan berlanjut.

Yen hingga Ringgit Ikut Tertekan

Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sebagian besar mata uang Asia bergerak di zona merah pagi ini:

  • Yen Jepang terpangkas 0,21%
  • Won Korea Selatan melemah 0,04%
  • Ringgit Malaysia turun 0,04%
  • Dolar Singapura melemah 0,04%
  • Yuan offshore dan baht Thailand masing-masing turun 0,03%

Pola pelemahan serentak ini menegaskan bahwa faktor pendorongnya bersifat global, bukan domestik. Penguatan indeks dolar AS ke 101,93 menambah tekanan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Yield Obligasi Naik, Sinyal Tekanan Berlanjut

Kenaikan yield obligasi di hampir semua tenor menjadi perhatian tersendiri. Yield tenor menengah hingga panjang naik paling signifikan, mencerminkan investor meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko yang meningkat.

Bagi pelaku pasar obligasi, kombinasi yield naik dan rupiah tertekan menciptakan dilema. Di satu sisi, yield tinggi menawarkan imbal hasil menarik. Di sisi lain, pelemahan kurs berpotensi menggerus keuntungan riil investor asing yang masuk ke surat utang Indonesia.

Apa yang Perlu Dicermati Investor

Pergerakan harga minyak di Selat Hormuz akan menjadi variabel kunci dalam beberapa sesi ke depan. Selama eskalasi serangan terhadap kapal berlanjut, premi risiko geopolitik diperkirakan tetap menekan mata uang kawasan.

Investor perlu memantau dua hal: perkembangan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan arah indeks dolar AS. Keduanya menentukan seberapa dalam pelemahan rupiah di pasar spot hari ini.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top