Ionna CEO: Pengisian Daya EV Tak Perlu Secepat Isi Bensin

Penulis: Vicky Prasetya  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:34:01 WIB
CEO Ionna Seth Cutler berbicara dalam wawancara mengenai ekspektasi waktu pengisian daya kendaraan listrik.

SULAWESI TENGGARA — Ionna CEO Seth Cutler menilai anggapan bahwa pengisian daya EV harus selesai dalam lima menit agar orang mau membelinya adalah keliru. Ia membandingkan kebiasaan pengendara bensin yang justru menghabiskan waktu di dalam toko SPBU seperti Buc-ee's dan Wawa. Cutler menyebut pengisian daya 10-20 menit sudah cukup ideal untuk kebutuhan perjalanan.

Perdebatan soal kecepatan pengisian daya kendaraan listrik masih jadi topik hangat di Amerika Serikat. Dalam wawancara di The Drivecast, Seth Cutler selaku CEO jaringan pengisian daya Ionna menyampaikan pandangannya soal ekspektasi publik terhadap waktu pengisian baterai.

Anggapan Lima Menit Isi Ulang Dinilai Tidak Akurat

Cutler menegaskan bahwa asumsi pengisian daya harus selesai dalam lima menit agar konsumen mau beralih ke EV tidak sesuai kenyataan. Menurutnya, pengendara kendaraan bensin pun tidak selalu terburu-buru saat mengisi bahan bakar.

"Gagasan bahwa pengisian daya harus selesai dalam lima menit atau orang tidak akan membeli EV itu tidak akurat," ujar Cutler dalam wawancara tersebut.

SPBU Modern Justru Jadi Tempat Orang Berlama-lama

Cutler menarik perbandingan dengan jaringan SPBU di Amerika Serikat yang kini berfungsi lebih seperti restoran ketimbang tempat isi bensin. Ia menyebut Wawa, Sheetz, Casey's, Buc-ee's, dan Wally's sebagai contoh.

"Tidak ada orang yang berhenti mengisi bensin, langsung keluar, buru-buru mengisi sebanyak mungkin, lalu pergi begitu saja," kata Cutler.

Ia menambahkan bahwa banyak SPBU modern justru mendapat pemasukan besar dari penjualan di dalam toko. Artinya, konsumen memang menghabiskan waktu di sana, bukan sekadar mengisi bahan bakar lalu pergi.

Data Penjualan EV Jadi Bukti Infrastruktur Saat Ini Sudah Cukup

Cutler merujuk pada data penjualan EV Amerika Serikat pada Juli lalu. Sebanyak 6 persen dari seluruh mobil yang terjual pada bulan tersebut adalah kendaraan listrik, meski infrastruktur dan teknologi baterai yang ada saat ini belum sempurna.

Angka itu, menurut Cutler, membuktikan bahwa konsumen tidak menunggu teknologi pengisian daya lima menit sebelum membeli EV.

Target Realistis: Pengisian Daya 10-20 Menit

Jika lima menit bukan target yang tepat, Cutler mempertanyakan bagaimana seharusnya masa depan pengisian daya EV di Amerika Serikat. Menurutnya, waktu 10 hingga 20 menit adalah angka yang masuk akal.

"Anda melihat bagaimana mencapai pengisian daya 10 sampai 20 menit, yang memberi cukup waktu untuk ke toilet, beli sandwich, meregangkan kaki, atau mengajak anjing jalan-jalan," ujar Cutler.

Ia menilai pengendara tidak ingin berlomba mengisi daya secepat mungkin lalu langsung pergi. Perilaku seperti itu, katanya, bukan yang terjadi di lapangan.

Stasiun Ionna Kini Pakai Charger 400 kW

Seluruh stasiun Ionna saat ini dilengkapi charger berkapasitas 400 kW. Ke depannya, perusahaan tengah menjajaki stasiun dengan daya 500 kW.

Menurut Cutler, kapasitas di atas 500 kW tidak diperlukan. "Jauh di atas itu, saya rasa tidak perlu. Sama sekali tidak," katanya.

Target pengisian daya 10-20 menit sebenarnya sudah hampir tercapai saat ini. Sejumlah kendaraan dengan sistem kelistrikan 800 volt lebih seperti Volvo EX90 2026, Lucid Gravity, dan Hyundai Ioniq mampu mengisi daya dari 10 hingga 80 persen dalam waktu sekitar 20 menit atau kurang.

China Sudah Lebih Dulu soal Pengisian Daya Cepat

China memang sudah lebih dulu menggaungkan pengisian daya lima menit, teknologi megawatt charging, dan baterai canggih yang dipadukan dengan EV berharga murah. Namun Cutler menilai pasar Amerika Serikat tidak perlu mengejar angka tersebut.

Pandangan Cutler ini memberi gambaran bahwa perlombaan kecepatan pengisian daya mungkin bukan prioritas utama. Yang lebih penting, menurutnya, adalah kenyamanan dan kegunaan waktu selama kendaraan mengisi daya.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: thedrive.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top