PT Vale Indonesia Tbk membina 51 petani di empat kecamatan lingkar tambang Kolaka, Sulawesi Tenggara, melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) dengan total lahan 11,57 hektare. Pada musim tanam terakhir, produksi padi organik dari kawasan itu menembus rata-rata 6,7 ton per hektare. Pendapatan petani binaan pun melonjak dari kisaran Rp 2,5 juta menjadi hingga Rp 10 juta per bulan.
KOLAKA — Transformasi pola tanam yang dimulai sejak 2021 itu menyasar petani di Kecamatan Baula, Pomalaa, Tanggetada, dan Wundulako. Metode System of Rice Intensification (SRI) organik menggantikan sistem konvensional berbasis bahan kimia yang sebelumnya jadi kebiasaan warga.
Pendampingan teknis diberikan berkala, mulai dari tahap penyemaian bibit hingga panen. Petani dibekali keterampilan meracik pupuk organik dan pestisida alami secara mandiri dari bahan lokal.
Indah Susanti, petani binaan di IGP Pomalaa, menyebut ilmu meracik pupuk dan pestisida sendiri sebagai manfaat paling berharga dari program tersebut. Bahan bakunya berasal dari kotoran hewan, sisa tanaman hijau, dan limbah organik di sekitar kampung.
"Dulu saat masih pakai kimia, semua harus beli di toko. Sejak ada pendampingan organik dari PT Vale, ilmu paling berharga bagi kami adalah bisa membuat pupuk dan obat hama sendiri," kata Indah.
Ketergantungan pada bahan kimia buatan pabrik pun terputus. Penggunaan pupuk organik secara berkesinambungan disebut mampu memulihkan tekstur dan struktur tanah yang sebelumnya terdegradasi.
Dampak ekonominya terlihat dari perubahan penghasilan bulanan. Sebelum beralih ke sistem organik, pendapatan rata-rata petani hanya berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan.
Kini angka itu melonjak menjadi Rp 7 juta, bahkan menembus Rp 10 juta per bulan dari penjualan beras, pupuk organik, dan tanaman hortikultura.
"Dulu, pendapatan saya dalam satu bulan itu paling Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Sekarang, bisa dapat Rp 7 juta hingga Rp 10 juta," ujar Indah.
Dari sisi hasil panen, Indah menilai metode SRI organik memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih menguntungkan dibanding cara lama.
Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK) hadir sebagai wadah penampung dan penyalur hasil panen. Asosiasi menerapkan skema jaminan harga dengan membeli gabah atau padi bersih langsung dari petani seharga Rp 1 juta per karung berkapasitas 50 kilogram.
Warga kawasan lingkar tambang turut dilibatkan dalam proses penjemuran, penapisan, dan penyortiran. Tujuannya memastikan produk bebas dari batu maupun bulir pecah sebelum dijual ke pasar.
Beras organik yang diproduksi terdiri dari beberapa varietas unggulan. Mentik Susu (beras putih) dijual Rp 24.000 per kilogram, sedangkan beras merah (Arumbah) dan beras hitam (Jeliteng) dibanderol Rp 35.000 per kilogram.
ASPOK menerapkan rantai distribusi satu pintu untuk menjaga mutu sekaligus mencegah pemalsuan produk. Beras binaan ini dikenal tidak mudah basi meski disimpan dua hingga empat hari setelah dimasak.
Komoditas tersebut juga disebut aman dikonsumsi penderita diabetes, bahkan menjadi bahan pangan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kolaka.
Keberhasilan kawasan pertanian ini tidak hanya dilirik pasar lokal dan pejabat daerah. Tamu serta mitra bisnis PT Vale dari China, Brazil, dan Inggris tercatat datang untuk studi banding.
Pengembangan budi daya padi organik diposisikan sebagai pilar penguatan ketahanan ekonomi warga. Program ini mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memperluas wawasan, teknologi, dan praktik pertanian yang lebih efisien serta ramah lingkungan.
Pembinaan berkesinambungan itu disebut sebagai strategi jangka panjang untuk membebaskan warga dari ketergantungan pada sektor pertambangan sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Kabupaten Kolaka diharapkan tumbuh menjadi sentra inovasi pertanian yang mendukung program ketahanan pangan nasional.